Thu12182014

Last update08:13:07 AM GMT

Back Pledoi Sufi Rekayasa Tuduhan Terhadap Ulama Sufi

Rekayasa Tuduhan Terhadap Ulama Sufi

  • PDF

Banyak kalangan yang terus menerus menuduh kaum Sufi terutama para Ulamanya, melalui berbagai rekayasa dan kalimat-kalimat, wacana yang disandarkan kepada para Ulama tersebut, sehingga mengesankan betapa para Ulama Sufi telah sesat. Rekayasa yang penuh dengan kezaliman ini telah disebarkan oleh musuh Islam, sekaligus mereka yang anti tasawuf.

Di bawah ini ilustrasi yang cukup otentik atas rekayasa tersebut:
Dalam Thobaqotnya, Ibul Farra’ mengutip dari Abu Bakr al-Maruzy, bahwa mereka (para perekayasa) telah banyak meriwayatkan berbagai masalah, kemudian masalah-masalah itu diidentifikasikan sebagai pandangan Ahmad bin Hambal. Dalam masalah ini mereka menuturkan:
“Dua orang yang saleh telah diuji melalui lingkungan sahabatnya yang buruk. Ja’far as-Shodiq dan Ahmad bin Hambal. Adapun Ja’far ash-Shodiq, karena banyak wacana yang disandarkan padanya, yang telah dikodifikasi dalam fiqih Syia’ah Imamiyah, bahwa pandangan itu adalah ucapan Ja’far ash-Shodiq, padahal beliau sama sekali tidak pernah mengatakannya. Sedangkan terhadap Imam Ahmad bin Hambal, sejumlah Ulama Hambali mengidentikkan pandangan mereka sebagai pandangan Imam Ahmad padahal sama sekali bukan.”

Suatu hari Imam Al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitsamy ra, ditanya mengenai akidah pengikut mazhab Hambal, “Apakah ada yang tesembunyi dibalik kemuliaan ilmu anda, apakah akidah kaum hambali itu seperti akidah Imam Ahmad bin Hambal?”
Ibnu Hajar menjawab, “Akidah imam Sunnah Ahmad bin Hambal ra, — dan semoga Allah meridloi dan menjadikan syurga ma’rifat sebagai tempatnya yang luhur, dan semoga berkahnya melimpah kepada kita, semoga Allah menempatkan di syurga firdausnya yang tinggi di SisiNya – adalah akidah yang relevan dengan Ahlussunnah wal-jamaah, terutama dalam penyucian Allah Ta’ala, — jauh dari apa yang dikatakan oleh kaum zalim, dan para penentangnya—jauh dari arah dan fisik dan sebagainya, bahkan jauh dari segala sifat yang kurang dari keparipurnaan absolut. Apa yang dipopulerkan secara dusta dan bodoh yang dikaitkan pada Imam Ahmad yang agung ini, bahwa Allah itu berarah dan dan berfisik adalah kedustaan dan kebohongan. Tentu bagi orang yang mengaitkan pada Imam Ahmad harus dilaknat. (Lihat al-Fatawa al-Haditsiyah, Ibnu Hajar al-Makky hal. 148)

Rekayasa juga dialamatkan pada Imam Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dimana Kitab Nahjul Balaghah dan yang lain yang selama ini tersebar, katanya dari ucapan Imam Ali. Adz -Dzahaby menyebutkan dalam biografi Ali bin al-Husain asy-Sayrif al-Murtadlo, sesungguhya: (adalah beliau yang meragukan kitab Nahjul Balaghoh dan orang yang menelaahnya harus dipastikan atas kebohongannya bahwa hal itu dari Amirul Mukminn Ali bin Abi Thalib. Di dalamnya menjadi sebab kontradiksi dan permusuhan terhadap dua pemuka sahabat Nabi Abu Bakr dan Umar bin Khoththob, ra, dan di dalam kitab itu penuh dengan antagonisma dan wacana dimana bagi orang yang sangat mengerti nafas sahabat Quraisy dan sahabat lainnya, pasti akan mengatakan bahwa kitab itu lebih banyak batilnya.” (Mizanul I’tidal, adz-Dzahaby, juz 3, hal 124)

Ulama Sufi yang dituding melalui rekayasa, antara lain Imam Asy-Sya’roni, khususnya dalam Thobaqotul Kubro, dan hal demikian juga diungkapkan dalam Lathoful Minan wal-Akhlaq, “Diantara anugerah Allah kepada diri saya adalah kesabaran saya atas cobaan orang-orang dengki pada saya, lalu mereka membuat rekayasa seakan-akan saya berkata suatu perkara yang bertentangan dengan syariat. Lalu mereka berfatwa, dengan kedustaan dan kebohongan sampai saya harus dilaporkan ke raja.
Perlu anda ketahui saudaraku, cobaan pertama yang menimpaku ketika di Mesir adalah rekayasa kebohogan itu.

Sejarawan besar Abdul Hayy bin Imad al-Hambaly dalam kitabnya Syadzarotuz Dzahab, menghenai biografi asy-Sya’rony ini, “Dia adalah Ulama yang mendapat kedengkian dari berbagai kalangan, lalu sejumlah wacana dikait-kaitkan pada beliau dengan dusta, seakan-akan beliau menentang syariat, bahkan dengan akidah yang menyimpang, serta masalah yang kontra dengan Ijma’ Ulama. Sampai akhirnya asy-Sya’roni dicaci maki, dihina, dan dilempari berbagai tuduhan. Namun Allah justru menghina mereka itu semua, dan terbukti bahwa Asy-Sya’rony bebas dari tuduhan, karena asy-Sya’roni sangat ketat pada Sunnah, wara’, bahkan ia sangat sederhana termasuk pakaiannya, senantiasa prihatin, dan waktunya dihabiskan untuk ibadah, menulis kitab, suluk dan meraih manfaat. Siang malam zawiyah sufiya sangat ramai, dan setiap malam jum’at senantiasa menghidupkam malam itu dengan penuh sholawat N