Fri05182012

Last update06:05:04 AM GMT

Back Maqomat Adab Berpakaian

Adab Berpakaian

  • PDF
Article Index
Adab Berpakaian
Halaman 2
All Pages

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Saya mendengar dari para jama`ah syekh Abu Abdillah ash-Shubaihi berkata, “Kefakiran seorang fakir (Sufi) belum bisa dibenarkan sehingga la keluar dari rasa

memiliki. Ketika la sudah bisa keluar dari seluruh rasa memiliki maka akan muncul suatu kedudukan.  Oleh karenanya, seyogyanya la menanggalkan kedudukannya sehingga tidak tersisa kedudukan apapun. Ketika la mengorbankan kedudukannya maka yang tersisa adalah kekuatan dirinya. Maka kekuatan dirinya pun harus dikorbankan untuk teman-temannya dengan cara melayani kepada mereka dan berusaha demi kepentingan mereka. Baru pada saat itulah kesuflannya bisa dlanggap benar.”

Saya mendengar Abu Abdillah ar-Rudzabari berkata, “Muzhaffar al-Qirmisini masuk di Ramalah bersama seorang panngeran. Mereka memiliki kedudukan terhormat di kalangan orang-orang kaya di daerah tersebut. Maka mereka senantlasa mengorbankan kedudukannya dan menginfakkan hartanya kepada para sufi hingga tak tersisa kedudukan apa pun di mata slapa pun. Tidak seorang pun yang akan memberi mereka sesuatu dengan cara meminta atau berhutang atau dengan gadai. Maka dalam kondisi demiklan waktu mereka menjadi baik.”

Dikatakan pada Ibrahim bin Syaiban al-Qirmisini - rahimahullah, “Bagaimana kondisi Muzhaffar al-Qirmisini dengan dua lembar serpihan kain dan meminta serta melayani teman-temannya?” Maka ia menjawab, “Ia telah mulai melangkah dalam futuwwah (kemurahan hati) hanya karena Allah, sehingga ia tidak mau lagi ketinggalan satu langkah pun yang telah dilakuan karena Allah.”
Ada sebagian kaum Sufi di Baghdad yang hampir tidak bisa makan kecuali dengan meminta-minta. Kemudlan ia ditanya tentang alasan melakukan hal itu. Maka ia menjawab, “Saya memilih hal itu sebab nafsu saya sangat tidak menyukainya.”

Ada seorang syekh Sufi terhormat masuk sebuah negeri. Ia melihat seorang “murid” (pemula) yang nafsunya selalu mengabulkan keinginannya untuk melakukan ketaatan, ibadah, kefakiran dan mengurangi makan. Perilakunya ini membuatnya bisa diterima di masyarakat awam. Kemudlan syekh Sufi tersebut berkata kepada si murid ini, “Semua yang telah Anda lakukan itu tidak bisa dibenarkan (sah) kecuali bila Anda mau mengemis sisa-sisa roti dari pintu ke pintu, dan Anda jangan makan apa pun kecuali dari hasil Anda mengemis.”

Namun perintah guru Sufi itu terasa berat bagi si murid dan ia tidak sanggup melakukannya. Ketika si murid ini sudah lanjut usia, terpaksa meminta-meminta karena ia butuh. Dan ia sadar bahwa hal itu merupakan hukuman atas ketidaktaatanya atas perintah guru di awal dalam merambah Jalan Allah swt.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Syekh Sufi tersebut tidak lain adalah Abu Abdillah al-Muqri’i, sedangkan syekh yang awal perjalanannya diperintah mengemis adalah Abu Abdillah as-Sajazi - rahimahullah.