| Article Index |
|---|
| Watak Asli Muncul |
| Halaman 2 |
| All Pages |
Page 1 of 2
Dony, pemuda yang sangat lugu, memasuki dunia thariqat sufi. Ia disarankan suluk (khalwat secara khusus di pemondokan Sufi) oleh gurunya, 41 hari, karena memang demikian aturannya.
Sembari menghitung waktu dari ibukota negeri ini, Jakarta, ia menunggu hari-hari keberangkatan dengan berdebar.
Sampai di Pesulukan, hatinya semakin berdebar, tarik menarik mulai muncul, antara harus menjalani Suluk 41 hari, dengan keinginan segera pulang ke Jakarta.
Hari pertama ia suluk, sudah tidak kerasan di pesulukan. Pikiran dan hatinya ingat Jakarta, keluarga dan anak-anaknya.
Dony coba menguatkan hatinya, tapi tak mampu. Lalu berkemas-kemaslah manata pakaiannya untuk dimasukkan kopor, dan esok hari niat pulang ke Jakarta.
“Saya mau pulang Mas..” pintanya pada pengurus pondok.
“Lho, kenapa?”
“Saya nggak kuat…”
“Tanya guru dulu sebelum kamu balik ke Jakarta…”
Dony menelpon gurunya, tapi dapat jawaban yang lebih mencekam hatinya.
“Kalau kamu besok pagi pulang, nanti kalau kembali lagi malah saya tambah jadi 81 hari…”
Dony sam’an wa-tha’an (manut saja), tetapi setiap hari ia ingin pulang dan setiap hari pula ia mengemas pakaiannya untuk masuk di kopernya. Situasi demikian berlangsung sampai dua belas hari. Hingga Dony popular di pesulukan itu kalau wiridnya Dony adalah mengeluarkan dan memasukkan pakaian ke kopornya setiap hari.
“Kamu akan menjadi orang peragu, dan skeptis selamanya kalau kamu begitu terus. Kamu di sini diajari supaya jadi orang yang punya rasa yaqin…”



