Hal-Hal Lain yang berkaitan dengan Sama’

Syeikh Abu Nashr As-Sarraj

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah—-mengatakan:
Sebagaimana yang telah kami sebutkan, bahwa alasan dari tujuan sama’ mereka adalah sesuai dengan maksud orang-orang yang mendengar, sesuai dengan apa yang ditemukan rahasia-rahasia hati, waktu dan apa yang mampu mengalahkan hati mereka. Sehingga apabila mereka mendengar sesuatu yang cocok dengan apa yang sedang mereka alami pada saat itu, maka segala yang tersembunyi dalam hati nurani mereka akan menguat, kemudian berbicara sesuai dengan wajd mereka, memberikan isyarat sesuai dengan maksud dan kejujuran mereka dan memberi isyarat pada apa yang cocok dengan kondisi spiritual mereka. Sementara itu, tujuan dari si penyair dan maksud orang yang mengungkapkan kata-katanya tidak sanggup mempengaruhi dan terbesit dalam benak mereka, demikian pula kelalaian orang yang membaca tidak akan sanggup mencabut konsentrasi mereka ketika dalam kondisi benar-benar memperhatikan. Begitu pula kesemrawutan ingatan orang yang sedang berdzikir tidak akan menggelisahkan mereka ketika sedang berkumpul. Dan bisa jadi ada dua kondisi spiritual yang cocok, dua waktu yang sama dan dua keinginan yang sejenis, sehingga yang sanggup mempengaruhi akan lebih kuat, waktu akan lebih bersih dan macam-macam cacat akan tersembunyi. Apabila mereka dilindugi dan disertai perlindungan (‘inayah) dan pertolongan (taufik) Allah Swt., mereka akan tetap terjaga dari kesalahan dan bebas dari cacat dalam segala kondisi spiritualnya.

Sementara itu penjelasan lebih lanjut dan apa yang saya paparkan di atas adalah sebagaimana kisah yang bakal saya sebutkan berikut, insya Allah: Diceritakan dari Muhammad bin Masruq al-Baghdadi yang mengisahkan: Suatu malam, di masa-masa “kejahiliyahan” saya, dan dalam keadaan mabuk saya melagukan bait syair berikut:

Di Thizanabadz ada anggur, setiap kali lewat di situ saya mesti merasa heran melihat mereka yang masih meminum air Kemudian saya mendengar seseorang bersyair:

Di neraka jahannam ada air yang apabila ditelan oleh makhluk
maka akan tetap tersisa di perut menjadi usus

Dari peristiwa itulah yang menyebabkan saya bertobat dan menyibukkan diri dengan ilmu, ibadah dan sebagainya.

Apakah Anda tidak melihat, bahwa ketika ia mendapat perlindungan (‘inayah) maka ketidakbenaran (bathil) yang sebelumnya ada pada dirinya akan terhapus, karena datangnya kebenaran (al-haq) pada dirinya, sehingga ketidakbenarannya menjadi sebab ia selamat ketika diikuti dengan taufik dan diberi perlindungan.

Dari Abu al-Husain bin Zar’an yang mengisahkan: Saya pernah berjalan bersama seorang sahabat di perkebunan kota Basrah, tiba-tiba kami mendengar seseorang yang memainkan rebab sambil melagukan syair:

Wahai wajah yang tampan, engkau tidak berbuat adil pada kami sepanjang masa engkau telah berbuat zalirn pada kami Mestinya kami punya hak terhadap engkau, Sebab kami selalu diuji dengan mencintaimu bila engkau berlaku adil pada kami

Kemudian ia menarik nafas panjang dan berkata, “Bagaimana seandainya Anda mengatakan dengan syair berikut?
Wahai wajah yang tampan, engkau bakal mati
pipi dan matamu pun akan hancur
Akhirnya engkau hanya tinggal nama
maka ketahuilah itu dan ini dengan yakin.”

Apakah Anda tidak melihat, bahwa ia menjawabnya sesuai dengan waktunya dan mengungkapkan apa yang tersembunyi dalam hatinya, sementara tujuan jelek orang yang mengatakan tidak menjadikannya marah, karena ia telah terkuasai oleh hakikat-hakikat dan dipenuhi oleh wajd-nya.

Searti dengan itu adalah apa yang dikisahkan dan asy-Syibli yang pernah ditanya tentang makna firman Allah Swt.:

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Q.s. Ali-Imran: 54).

Dengan pertanyaan, “Saya telah mengetahui bagian yang dianggap tipu daya orang-orang kafir, lantas di mana tipu daya Allah terhadap mereka?” Maka asy-Syibli menjawab, “Allah telah membiarkan mereka dalam kondisi yang sedang mereka alami, dan andaikan Allah menghendaki untuk mengubahnya tentu akan mengubah ke kondisi lain.”

Kemudian asy-Syibli menyaksikan si penanya, ternyata ia tidak butuh jawaban itu, lalu asy-Syibli balik bertanya, “Apakah Anda tidak pernah mendengar apa yang dikatakan si Fulanah ath-Thurraniyyah berkaitan dengan masalah tersebut:

Jeleklah semua perbuatan selain dan-Mu dalam pandanganku lalu Engkau melakukannya, akhirnya menjadi baik, dan itu datang hanya dari-Mu

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan:
Perhatikan di manakah letak isyarat asy-Syibli dan maksud perempuan (Fulanah) itu? Semua itu masuk dalam ungkapan Rasulullah, “Sesungguhnya hikmah itu barang milik orang mukmin yang hilang.”

Sementara orang yang punya masalah dan menanyakannya kepada asy-Syibli adalah Abu Abdillah bin Khafif, sebagaimana yang saya dengar — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Harus dibaca juga..

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.