Esensi Dzikir

Menghantar sebuah buku tentang Dzikrullah, barangkali tidak terlalu sulit. Menjadi sulit ketika yang dihantar adalah Dzikir itu sendiri. Karena seluruh alam semesta ini dicuptakan oleh Allah swt, agar kita terus menerus berdzikir padaNya, hingga seluruh semesta pun tak pernah berhenti berdzikir dan bertasbih padaNya. Maka tak satu pun ada alasan, manusia untuk berhenti berdzikir. Kedekilan hati manusia yang terkoyak oleh materialisme dan hedonism alam, membuat hati semakin terpedaya, dan berakhir menjadi budaknya alam, hingga lupa dengan Sang Pencipta alam. Lalu dengan tegas Allah Swt mengingatkan, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Menciptakanmu.”

Harus dibaca juga..

Mengapa soal menyembah dibhubungkan dengan penciptaan? Karena manusia memiliki kecenderungan kuat menjadi budaknya ciptaan, bahkan menyembah pada ciptaan dalam pengertian yang luas. Karena itu ubudiyah manusia selalu dikaitkan dengan Dzikrullah. Tanpa Dzikrullah dalam proses dan tujuan penghambaan padaNya, manusia akan sering melesat dari orbitnya sebagai hamba Allah swt. Tiba-tiba sudah ada dalam kegelapan yang memuakkan dan menyiksa.

Dzikrullah menjadi sangat urgen dan niscaya. Maka seluruh ajaran Tasawuf menempatkan Dzkrullah sebagai pilar fundamental dalam alamiyahnya, apa pun wujud dan ragam amaliyahnya, maka Dzikrullah harus meliputi seluruh atmosfir kehidupan amaliyah itu. Bahkan, dalam tradisi Tasaswuf, Dzikir masuk dalam haknya waktu pada hamba Allah Swt, bukan haknya hamba Allah pada sang waktu. Ibnu Athaillah menegaskan dalam kitab Al-Hikam, “Hak-hak dalam waktuy bias mungkin diqodho’ (jika tidak bisa dilakukan karena suatu alasan tertentu) tetapi Hak-hak waktu dalam dirimu tidak bias diqodho.”

Jika anda kehilangan waktu berdzikir, maka sang waktu tidak akan pernah memutar dirinya, agar anda bias beraktivitas dzikrullah di sana. Maka justru pedang sang waktu telah memenggal diri anda, dalam lubang kosong yang sia-sia.

Banyak buku  yang memberi motivasi dan presentasi betapa pentingnya Dzikrullah dengan seluruh esensinya dan maqomat (tahap-tahap psikhologis) di dalamnya. Tentu pendidikan Dzikri sangat dibutuhkan agar manusia tidak tersesat dari tujuan dan esensinya. Manusia yang lemah, tak berdaya, tidak memiliki kompetensi bahkan sangat butuh dan fakir, sudah seharusnya menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah hidup dan berdiri sendiri tanpa Dzat yang Maha Menghidupkan dan Memelihara Kehidupan, lahir maupun batin.

Maka, agama ini penuh dengan pendidikan dan sekaligus bagaimana cara mendidik manusia itu sendiri. Metode pendidikan dzikir juga penting, yang kelak disebut dengan Thariqah Dzikir. Jangan sampai mereka yang sedang berdzikir lepas dari tujuan utamanya, hanya karena salah dalam menapaki Jalan Allah di balik Dzikir tersebut. Maka dalam Thariqah Dzikir tetap butuh bimbingan Mursyid atau Guru yang telah meraih keparipurnaan esensi Dzikrullah.

Oleh karena itu dalam Al-Qur’an posisi Dzikir tidak bias lepas dari posisi Fikir. Ini meneguhkan betapa seluruh buah dari Dzikrullah akan semakin mendorong seseorang semakin Tafakkur, namun Tafakkur yang didahului kesadaran Dzikir, sehingga melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang manfaat dunia akhirat. Maka semakin seseorang berdizkir akan semakin berfikir, dan semakin berfikir akan semakin naik derajat Dzikirnya.

Dalam ubudiyah yang paling sentral, Shalat, posisi Dzikrullah menjadi tujuan ritual Sholat. “Aqimis sholaat lidzikri (Tegakkan sholat untuk dzikir kepadaKu)” mendorong terus menerus orang yang Shalat untuk tidak kehilangan Dzikrullah, mulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Bila hal itu bisa dilakukan, ia telah menghadap pada Allah dengan khusyu’ dan khudhu’. Sejauh mana maqam atau tahap khusyu’ yang diraihnya, maka Allah Swt Sendiri yang menentukan. Bukan muncul karena program dari manusia. Di sini bias dimengerti mengapa training Sholat khusyu’ lebih banyak gagal dibanding keberhasilannya meraih kekhusyu’an, karena menganggap khusyu’ itu bisa diprogram melalui ikhtiar seseorang. Padahal khusyu’ adalah “mawhibah” (anugerah, given Ilahiyah) menurut Sang Penganugerah, bukan menurut hamba Allah.

Karenanya Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitabnya “Miftahul Falah wa Mishbahul Arwah” menegaskan, “Dzikir di dalam Shalat itu lebih utama dibanding Dzikir di luar Shalat.”

Hal demikian bisa bermakna, bahwa Dzikrullah adalah Ruhnya Shalat, dan Rahasia tersembunyi di balik Ruhnya Shalat adalah Al-Madzkuur (Allah Ta’ala yang didzikiri).  Hingga Shalat yang khusyu’ adalah Shalat yang bermusyahadah dan berma’rifah kepada Allah Swt.

Ruang Tauhid dalam Tasaswuf akan terus menghantar Dzikrullah seseorang. Tauhid sendiri harus diekspressikan dalam amaliyah Tasawuf, yang diulas melalui Adab memanifestasikan Tauhidnya sang hamba kepada Allah swt. Kelak membuahkan perilaku ruhani dalam adab dengan Rasul Saw, adab dengan para Masyayikh, adab dengan seama orang beriman, adab dengan sesame manusia, dan adab dengan sesame alam ciptaan.

Dalam konstelasi Dzikrullah, Tauhid menghantar bahwa Dzikir itu sesungguhnya adalah:

–          Dari Allah,

–          Menuju Allah,

–          Bersama Allah

–          Bagi Allah.

Dzikir akan gagal meraih tujuannya, jika didasari oleh pandangan bahwa Dzikir itu dari makhluk, untuk kepentingan selera makhluk, dengan kemampuan makhluk dan untuk makhluk. Bahkan jika Dzikrullah itu diklaim munculnya dari makhluk untuk Allah, bersama makhluk menuju Allah swt, tetap saja akan mengalami kegagalan meraih esensinya. Jika itu dialami oleh seseorang, itu pun hanya sekadar “latihan Dzikir”, agar kelak meraih harapan utamanya, bahwa Dzikir itu hakikatnya Dari Allah dan Dzikirnya Allah pada hambaNya, hingga sang hamba diangkat derajatnya sampai Wushul dengan Allah, lalu menyadari bahwa Hakikat Dzikir yang hakiki adalah Dzikirnya Allah pada Allah Swt Sendiri.

Dalam pengertian terakhir tersebut seseorang perlu bimbingan yang benar, agar tidak terseret imajinasi khayal yang justru melemparkan dirinya ke lorong gelap yang mengerikan., karena kehilangan “keikhlasan” dalam berdzikir.

Wallahu A’lam

KH M Luqman Hakim,

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.