Cinta Allah Cinta Rasulullah

Di sini tak ada penyesalan, Yang ada hanyalah cinta…
Kepada Allah dan Kepada Rasul SAW-Nya
Disamping mengetahui haknya Sebagai hamba Dan haknya Terhadap sesamanya.

Harus dibaca juga..

 

Kalimat Hikmah tersebut tertulis dalam sebuah sudut tembok tua di Pesantren Pesulukan Thariqat Agung Tulung Agung. Para santri, para tamu dan mereka yang sedang melakukan Suluk Thoriqoh, senantiasa membaca kalimat ini. Kalimat yang sepintas aneh, namun memiliki sentakan hati yang menusuk kegelapan dunia, sekaligus membangunkan kelelapan hamba. Kalimat sederhana, tetapi merupakan simpul dari seluruh perjalanan Mi’raj Kaum Sufi di seluruh dunia, pengetahuan sekaligus hikmah terdalam, dan akhir sebuah perjalanan. Mencintai Allah dan mencintai Rasul Saw-Nya, mengetahui haknya sebagai hamba dan haknya terhadap sesama hamba.

Mencintai Allah itu tidak akan pernah tergapai manakala sang hamba tidak pernah mencintai Rasul Saw-Nya. Mencintai Rasul Saw-Nya kelak secara otomatis mcngikuti jejak-jejak sang Rasul Saw. Sebab mahabbah atau cinta Rasul Saw itu sebagai syarat utama yang hakiki bagi upaya-upaya untuk mengikuti keteladanan Rasulullah Saw. Ketika seorang hamba menempuh perjalanan amal dan menggapai deradjt luhur: bahwa semua itu merupakan penjejakan dalam Islam, suatu orientasi semata menuju kepada Allah Swt.

Dalam suatu ayat Al-Qur”an dijelaskan: “Katakanlah, apabila orangtuamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu. isteri-isterimu dan keluargamu, dan harta-harta yang kamu berusaha meraih keuntungannya, serta perdagangan yang kamu takutkan akan kebangkrutannya, dan tempat-tempat tinggal yang kami senangi, ternyata) lebih kami cintai dibanding mencintai) Allah dan Rasul Saw-Nya serta jihad di jalan-Nya. maka. tunggulah, sampai Allah akan mendatangkan Keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada Orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah: 25)

Cinta atau mahabbah ternyata menempati posisi luhur dalam kehidupan beragama. Banyak orang menyangka, apa yang dilakukan selama ini sudah menempati posisi cinta itu, padahal ia sekadar menjalankan suatu perintah belaka, tanpa penghayatan rasa cinta sampai ke dalam batin, rasa cinta yang menyentuh ruh dan lubuk kalbunya.

Betapa dahsyatnya cinta kepada Allah dan Rasul Saw-Nya ini, sampai Allah memperingatkan dengan berbagai versi dalam Ayat Al-Qur’an maupun Hadits Rasul Saw. Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abdullah bin Hisyam dijelaskan:

“Kami bersama Rasulullah Saw. Ketika itu Rasul Saw sedang memegang tangan Umar bin Al-Khathab, lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah Saw engkau adalah orang yang paling kucintai dibanding segalanya selain diriku.” Lalu Rasulullah Saw. Balik menjawab, “Tak seorang pun beriman secara sempurna sampai aku lebih dicintai dibanding dirinya sendiri.” Umar kembali menegaskan, “Engkau sekarang, lebih kucintai dibanding diriku sendiri.” lalu Rasulullah Saw Saw. bersabda, “Sekarang begitu wahai Umar.”

Dalam hadits lain yang dikeluarkan oleh Imam Muslim disebutkan. “Nabi Saw. Bersabda, “Apabila Allah Azza wa-Jalla mencintai seorang hamba, Dia berflrman kepada Jibril: “Wahai Jibril Aku Mencintai seseorang, maka cintailah dia.” Lantas Jibril mengumumkan kepada seluruh penghuni langit, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar Mencintai seorang hamba, maka hendaknya kalian mencintainya.” Lalu penghuni langitpun mencintai hamba itu, dan hamba itu pun diterima oleh manusia di muka bumi…,dst.”

Dalam konsep sufi, mahabbah atau cinta menempati posisi ruhani yang luhur dan mulia. Menurut Abul Qasim al-Qusyairy dalam kitabnya Ar-Risalah al-Qusyairiyah, Allah menyaksikan sang hamba melalui cinta itu dan Allah mempermaklumkan cinta-Nya itu kepada hamba tersebut. Maka Allah Swt. disifati sebagai sang Pecinta kepada hamba dan begitu pula si hamba disifati sebagai pecinta kepada kepada Allah Swt.

Itu berarti bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya itu adalah semata Kehendak-Nya, agar ada pelimpahan Kasih Sayang kepada sang hamba. sebagaimana dengan rahmat-Nya ketika melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba.

Jadi mahabbah atau cinta memiliki nuansa khusus dibanding Rahmat. Sementara Rahmat tersebut lebih sebagai merupakan pelimpahan-pelimpahan nikmat secara umum. Secara khusus Allah melimpahkan nikmat kepada hamba-Nya dalam gairah ruhani sang hamba, yang kemudian disebut cinta atau mahabbah.

Pengalaman Sufi
Para sufi seringkali menyebutkan mahabbah atau cinta. Hampir seluruh puja dan puji para Sufi, mendendangkan keharuan cinta dan kedahsyatan rindunya. Pecinta agung sepanjang zaman, Rabi’ah Adawiyah misalnya, telah mampu mencapai tingkat cinta tertinggi, dan dengan cinta itu pula Rabi’ah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Swt. Seluruh istana sufi, hampir-hampir dipenuhi ornamen-ornamen kecintaan kepada Sang Kekasih. hingga pada tahap tertentu sang hamba seakan-akan menyatu dengan Kekasihnya itu.

Sejumlah pengalaman cinta para Sufi begitu kuat terdefinisi dalam simpul-simpul berikut:

Cinta berarti kecenderungan pesona sang kekasih dengan penuh kebimbangan hati. 
Cinta adalah mengutamakan kekasihnya di atas segala yang dikasihi.
Cinta adalah keselarasan jiwa dengan Sang Kekasih di dalam Dunia nyata maupun Dunia tidak nyata.
Cinta adalah peleburan si pecinta dengan sifat-sifat-Nya dan Peneguhan Cinta-Nya dengan Dzat-Nya.
Cinta merupakan selaras hati dengan Kehendak-Nya.
Cinta berani rasa takut bila berlaku tidak sopan pada saat menegakkan pengabdiannya.

Al-Bustamy mengatakan, Cinta adalah membebaskan segala hal-hal sebesar apa pun yang datang dari egomu, dan membesarkan hal-hal yang kecil yang datang dari kekasihmu.

Junaid al-Baghdady menegaskan. Cinta berarti merasuknya Sifat-sifat sang Kekasih, meraih sifat-sifat si pecinta. Si pecinta sudah lebur dalam kenangan dan ingatan sang kekasih.

Abu Abdullah al-Qurasy mengatakan. cinta berarti mcnyerahkan dirimu kepada Sang kekasih tanpa sedikitpun tersisa.

Sedangkan Asy-Syibly menyatakan, Cinta yang kemudian disebut mahabbah hanya karena mahabbah sudah melenyapkan seluruh sisi hati, kecuali hanya Sang kekasih. Jika Cinta itu benar, kata Al-Junaid, maka segala aturan adab sudah gugur.

Dalam suatu forum di antara para syeikh sufi di Mekkah al-Junaiyd adalah peserta termuda. lalu ia dipanggil. “Hai orang Irak. apa pendapatmu tentang Cinta?” Tiba-tiba Al-Junayd menundukkan kepala. Air matanya meleleh dan sesenggukan, lalu bicara.

“Cinta adalah seorang pelayan yang meninggalkan jiwanya dan melekatkan dalam pelukan Dzikir kepada-Nya. mengukuhkan diri dalam melaksanakan perintah-Nya dengan kesadaran penuh bahwa Dia dalam hatinya. Cahaya Dzat-Nya telah membakar hatinya, lalu ikut meminum dalam pesta minuman suci dari cangkir cinta-Nya. Lalu Yang Maha Kuasa tersingkap dari balik tirai-Nya, sampai ia hanya bicara dengan kata-kata yang selaras dengan perintah-Nya, apa yang diucapkannya berasal dari-Nya. Ketika ia bergerak, ia bergerak karena perintah-Nya, ketika ia diam karena diamnya bersama Allah.”

Mendengar penururan Al-Junaid semua para Syeikh menangis, lalu berkata, “Tak ada yang perlu diucapkan lagi. Semoga Allah menguatkan dirimu, wahai mahkota para sufi.“

Dalam suatu riwayat, Allah Swt. Mewahyukan kepada nabi Daud as, “Aku telah melarang cinta —untukKu— yang merasuk di hati manusia, manakala cinta kepada selain Diri-Ku, masih punya tempat di hatinya.”

Dikisahkan tentang munajat Rabi’ah Adawiyah. “Tuhanku, akankah Engkau membakar dengan api, hati yang mencintaiMu?” Tiba-tiba muncul bisikan lembut, “Kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Jangan dirimu menyangka buruk seperti itu kepada-Ku…”

Cinta kepada Rasulullah Saw.
Pengalaman-pengalaman sufi tentang cinta, sebenarnya tidak bisa lepas dari rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Al-Bushiry Asy-Syadzily, penulis sajak-sajak Al-Burdah yang monumental itu, sungguh sangat anggun ketika melantunkan gairah cintanya kepada Rasulullah Saw. Sebab selain seorang Rasul utama, Kanjeng Nabi Muhammad Saw adalah kekasih Utama-Nya pula.

Bentuk Cinta seorang hamba kepada Rasul-Nya, adalah melalui peneladanan Sunnah-sunnah nya, mendoakan melalui Sholawat Nabi kepadanya, bahkan menghayati seluruh jalan hidupnya. Rasul Saw adalah teladan mulia, bagaimana para hamba mencintai-Nya, sampai pada dataran dimana cinta benar-benar agung dalam jiwa para hamba, sebagaimana Cinta yang dilukiskan para sufi itu.

Mencintai Rasul Saw berarti mencintai Allah, dan sebaliknya mencintai Allah juga berarti mencintai Rasulullah Saw. Apa yang disebut dengan Cahaya Muhammad, adalah bentuk Kemaharinduan dan Kemahacintaan Ilahi, dimana Cahaya Muhammad adalah Titik Pertama, yang kelak melimpah menjadi Jagad Raya, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Karena itu, dalam tradisi tarekat, shalawat kepada Nabi senantiasa mengiringi dzikir para sufi, karena Cahaya Muhammad itulah awal dimana Allah menciptakan dan kemudian ciptaan-Nya itu mengenal-Nya dengan gairah cinta-Nya. Dalam hadits Qudsi disebutkan, “Aku adalah khazanah tersembunyi, lalu Aku ingin sekali (dengan segala Cinta-Ku) untuk dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk agar ma’rifat kepadaKu”

Cinta kepada Rasulullah Saw berarti juga suatu kesadaran agung dimana seorang hamba mengenal dirinya sebagai hamba, dengan segala hak-hak (kewajiban kehambaan, ubudiyah) dan mengenal dirinya sebagai hamba yang memiliki hak terhadap sesama hamba.

Cinta tidak mengenal batas agama, batas golongan, batas geografi, baras suku dan batas- batas sosial lainnya. Cinta kepada Rasul Saw adalah awal kecintaan hamba terhadap sesama hamba makhluk Allah Swt. Kecintaan yang tak bisa digambarkan dengan jual beli duniawi, ataupun penghargaan materi.

Tetapi cinta yang membubung dalam rahasia terdalam dari lubuk hamba kepada kekasih-Nya, Muhammad Saw.
Mari kita renungkan, suatu wacana cinta di bawah ini: “Dosa orang-orang yang ma’rifat adalah menggunakan ucapan, penglihatan mereka untuk kepentingan duniawi dan meraih keuntungan darinya. Sedang pengkhianatan pecinta adalah mengutamakan hawa nafsu mereka dibanding mengutamakan Ridha Allah Swt. Dalam urusan yang mereka hadapi. Sedang dusta para pemula di jalan sufi adalah jika mereka lebih peduli terhadap kesadaran akan hal-hal manusiawi, dibanding kesadaran akan dzikir dan memandang Allah Swt.” Demikian kata sufi besar, Abu Utsman.

Di Balik Istighfar dan Shalawat Nabi Saw.
Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi Saw? Mengapa dalam praktik sufi, senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid-wiridnya?

Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang.  Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar.

Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut syari’at karena Allah Swt, memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan Shalawat dan Salam kepada Nabi. Dalam Firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya senantiasa bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya.” (QS. 33: 56)

Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut:
Suatu hari Rasulullah Saw, datang  dengan wajah tampak berseri-seri, dan bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya.” Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.” (HR. an-Nasa’i)
Sabda Rasulullah Saw: “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)

Sabda Nabi Saw, “Manusia yang paling uatama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya.” (HR. at-Tirmidzi)

Sabdanya, “Paling bakhilnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia tidak mengucapkan shalawat bagiku.” (HR. at-Tirmidzi). “Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at” (HR. Abu Dawud).

Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i)

Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam kepadanya.” (HR. Abu Dawud).

Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad Saw, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah Saw, Kekasih Allah dan Cahaya Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa.

Mengapa kita musti membaca Shalawat  dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang?  Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah Swt:

Nabi Muhammad Saw adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau, adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah, melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah Saw.

Nabi Muhammad Saw, adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendoakan, tanpa reserve.  Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad Saw.

Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi, karena kandungan kebajikannya yang begitu par-exellent.

Shalawat Nabi, menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke  alam Samawat (alam ruhani), ketika nama Muhammad Saw disebutnya. Karena itu, mereka yang hendak menuju kepada Allah (wushul), peran Shalawat sebagai pendampingnya, karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna.

Nabi Muhammad Saw, sebagai nama dan predikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam Jiwa Muhammad Saw. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik Cinta itu, hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam.

Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu, lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat, juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi Saw. Oleh sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad Saw yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para malaikat-Nya.***

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.