Apakah Anda Sudah Wushul Pada Allah? (2)

Tanda Dekat dengan Allah

Harus dibaca juga..

Sedangkan tanda seseorang itu dekat dengan Allah swt, itu menurut Ibnu Athaillah ada 3. Pertama, meninggalkan selera diri. Kedua, bangkit bersama Allah swt. Ketiga, redah hati (tawadhu’) terhadap  makhluk Allah swt.

Manusia dengan kapasitas egonya seringkali mendahulukan seleranya disbanding kepentingan Allah swt. Inilah yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Tanpa disadari manusia sudah begitu lama jauh dari Tuhan, dan di ujung bahaya ia tidak mengenal Tuhannya. Maka manusi harus bangkit menuju Allah bersama Allah, bukan bersama seleranya.

Itulah wujud kedekatan yang kelak juga menalahirkan sikap dan karakter Tawadhu’ (rendah hati). Sikap yang menghargai sesama makhluki karena Allah swt Sang Penciptanya.

Kedekatan dengan Allah bukan bermakna dekat secara jarak, ruang dan waktu. Tetapi kedekatan ruhani adalah menyadari betapa Allah Maha Dekat disbanding diri kita terhadap diri sendiri.

Maka Fadhal dan RahmatNya begitu dengan dengan anda, seluruh kasih saying dan IlmuNya lebih dekat kepada anda. Dan seluruh Asma’ dan SifatNya begitu dekat dengan anda disbanding anda sendiri. Coba kita hayati itu dalam setiap ubudiyah dan sosial kita.

 Tanda Wushul pada Allah swt.

Apakah yang disebut Wushul (sambung dengan Allah) itu? Dalam Alhikam Ibnu Ayhaillah menegaskan “Wushulmu pada Allah adalah wushulmu pengetahuanmu pada Allah swt.” Jadi bukan bersambungnya dua dzat. Karerna mustahil ada dua dzat bersambung dengan sifat dan karakter berbeda, DzatNya yang Mutlak dan dzat kita yang relative. Dzat yang relative adalah dzat yang diciptakan, yang sesungguhnya tidak ada. Karena Dialah Satu-satunya Dzat yang Wajid Ada.

Nah, tanda akan kita ini sudah wushul dengan Allah swt, antara lain:

1, Faham yang pada Allah dan dari Allah

2. Mendengar yang dari Allah

3. Meraih apa pun dari Allah.

1. Manusia beriman pada Allah swt, tetapi belum tentu memahami Allah dan segala hal yang dating dari Allah swt. Indikator kita memahami Allah antara lain muncul rasa syukur, bkan pada wujud nikmat yang diberikan, tetapi karena memandang Sang Pemberi nikmat. Ridho, karena Allah Maha Tahu yang terbaik pada diri kita, yang paling kita butuhykan saat itu, dan paling benar. Ridho juga beraksentuasi pada sikap ridho terhadap segala hal yang diridhoi oleh Allah swt dibalik Perintah dan LaranganNya, dibalik KecintaanNya. Disamping ityu orang yang faham pada Allah tidak membedakan suka dan duka, pahit dan manis, dalam memandang Allah swt. Semua adalah manifestasi Kasih SayangNya.

2. Mendengar yang dari Allah swt, bermakna:

Mendengarkan dengan telinga hati apa pun yang dari Allah swt, sekaligus mendengarkan apa yang ada di telinga inderawinya, bahwa dibalik bunyi dan suara ada Allah dan menuju Allah swt.

3. Meraih yang dari Allah swt

Meraih apa pun yang dari Allah swt, berarti menolak apa pun yang bukan dari Allah swt. Maknanya, apa pun yang diberikan oleh sesama makhluk kepada anda, maka hati anda pasti mengatakan ini dari Allah swt. Lisan anda mengucapkan terimakasih pada sesama, hati anda mengucapkan syukur kepada Allah swt.

Tetapi jika kita masih memadang makhluk, pemberiian makhluk, berarti pemberian tadi adalah Hijab antara dirinya dengan Khaliq. Posisi inilah yang membuat orang yang wushul pada Allah selalu memandang Allah swt sebagai Penyebab segalanya. Karena Allah swt meliputi segalanya melalui Asma Af’al dan SifatNya. (bersambung)

KHM Luqman Hakim

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.