Apakah Anda Sudah Wushul pada Allah? (1)

Apakah Anda Sudah

Harus dibaca juga..

Wushul Pada Allah? (1)

Dalam salah satu kitabnya (Miftahul Falah wa Mishbahul Arwah) Ibnu Athaillah As-Sakandary menegaskan tiga point utama yang sama sekali tidak boleh diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama mengenai tanda apakah seseorang tidak lagi ditengok oleh Allah swt, sehingga Allah tidak mau Memandangnya lagi. Kedua, tanta orang yang dekat dengan Allah swt, sehingga menjadi assasment diri kita apakah sesungguhnya kita ini sudah dekat dengan Allah atau belum? Ketiga tanda orang itu apakah sudah Wuhsul (bersambung) dengan Allah swt atau belum?

Tentu saja pandangan Ibnu Athaillah ini luar biasa, karena beliau memberikan indikasi yang sangat sensitive dengan hubungan-hubungan ruhaniyah kita dengan Allah swt, sekaligus menjadi bagian dari ter[penting dalam hidup kita.

Disamping tiga hal utama tadi, masih disusul dengan indicator-indikator apakah kita benar-benar membangun hubungan special (Ikhtishah) dengan Allah swt, atau tidak. Apakah kita ini benar-benar menjadi “Prototype Ilahiyah” pasca kefanaan kita atau belum? Apakah kita ini sudah Cinta kepada Allah swt apa belum? Apakah Allah benar-benar telah menjatuhkan CintaNya kepada kita apa belum?

Tanda kita gugur dari PandanganNya

Dalam kitab tersebut diungkap ada tiga indikasi manusia gugur dari Pandangan Allah swt.

  1. Rela pada hawa nafsu
  2. Tidak rela terhadap yang datang dari Allah Swt
  3. Memberontak Qodho dan Qodarnya Allah Swt.
  • Rela pada hawa nafsu akan melahirkan maksiat, alpa dari Allah dan menuruti syahwat kesenangan. Dan inilah awal tragedy kehambaan kita. Karena itu juga disebutkan dalam kitab Al-Hikam, “Akar taat kepada Allah, akar kesadaran kepada Allah dan akar pengendalian diri, adalah ketidakrelaan kita pada hawa nafsu.”

Musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Ketidak relaan pada nafsu adalah tantangan terberat dalam hidup ini, karena ia harus melawanb diri, menekan dan mengendalikan terus menerus sampai mati. Padahal nafsu itu sangat lembut, tersembunyi, dan bias dicover dengan performance kepatuhan, ketaatan dan hal-hal religious. Padahal dalam hatinya penuh nafsu.

TetapI jangan sampai manusia itu berhenti taat dan dzikrullah gara-gara nafsu mengusai dirinya. Atau karena beralasan, bahwa ia belum bias menguasai nafsunya. Siapa tahu Allah menaikkan derajat seseorang, dari situasi ibadah yang serba terpaksa, serba alpa dan bahkan serba nafsu, menuju ibadah yang dipenuhi kesadaran, bahwa dia sesungguhnya adalah hamba Allah swt. Bukan hamba nafsunya.

Siapa tahu, Allah menaikkan lagi dari kesadaran sebagai hambaNya, ia dinaikkan menuju hadir di hadapanNya dalam kehidupan sehari-harinya. Rasa hadir  (hadhrah) yang terus menerus, sesungguhnya karena Pertolongan Allah swt, bahwa Allah-lah yang menghadirkan kita di hadapanNya, bukan kita yang hadir sendiri di hadapanNya.

Setelah manusia dihadirkan Allah untuk menghadap kepadaNya, siapa tahu dinaikkan derajatnya untuk fana’ dari segala hal selain Allah swt.

Nah, perjuangan meawan hawa nafsu ternyata sangat panjang, dan karena itu kita tidak boleh bangga atas prestasi spiritual kita. Begitu muncul kebanggaan, maka seseorang justru jatuh kembali ke lembah hina dalam lumpur spiritual yang memuakkan.

  • Tidak rela pada yang dating dari Allah swt.

Ini bentuk aksentuasi kontra ruhani yang sangat tercela dalam kehidupan jiwa kita. Karena manusia merasa lebih tahu disbanding Allah swt atas semua kebutuhan hidupnya. Manusia merasa bias “mengajari” Tuhannya. Inilah wujud kekurangajaran nafsu kita. Padahal manusia itu selamanya tidak bisa melepaskan sifat fakirnya, sifat hinadinanya, sifat lemahnya dan sifat ketidakberdayaannya.

Kontra terhadap Kehendak-kehendak Ilahi, akhirnya menumbuhkan sifat kontra baru yaitu pemberontakan terhadap Qodho dan QodarNya Allah swt.

  • Pemberontakan ini pasti bentuk pembangkangan tingkat maniak paling berbahaya, karena ia memposisikan dirinya sebagai musuh Tuhan, sebagai sososk yang sebanding dengan Tuhan, bahkan sudah menjurus pada eksitensi firaunisme yang mengaku sebagai Tuhan. Na’udzubillah min dzaalik.

(Bersambung)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.