Ambisi Gila Tahta

Motivasi Tahta
Motivasi meraih tahta adalah kesenangan terhadap pujian. Manusia menikmati pujian tersebut dalam tiga hal:
Pertama, yang dipuji merasa memiliki supremasi kesempurnaan, dan merasakan supremasi tersebut sebagai sesuatu yang nikmat. Sebab kesempurnaan adalah sifat-sifat Ilahiah.
Kedua, ia merasa menguasai hati orang yang memuji, dan bisa menegakkan kharisma kepada orang tersebut, karena telah tunduk kepadanya.
Ketiga, la merasakan bahwa pemujinya benar-benar serius dengan ‘ pujiannya, sehingga kekuasaannya semakin menebar. Apalagi jika pujian itu merambah khalayak umum, ia semakin menikmati pujian tersebut.

Harus dibaca juga..

Pada kenikmatan pujian yang pertama di atas, akan sirna rasa nikmatnya, apabila pujian muncul dari orang yang tidak memiliki pandangan jiwa, karenanya, pujian itu tidak menambah kualitas kesempurnaannya. Sedangkan kenikmatan pujian kedua, juga tidak membekas bila muncul dari orang rendah yang tidak memiliki akses kekuasaan. Sebab dominasi terhadap wahana hati orang rendahan tersebut tidak diperhitungkan. Dan kenikmatan ketiga juga sirna apabila pujian dilontarkan di tempat yang sunyi, tidak di tengah khalayak. Karena kenikmatan pujian di sini justru muncul di tengah khalayak.

Cercaan, termasuk hal yang dibenci oleh orang yang berambisi pada tahta, karena akan merusak faktor-faktor kenikmatan tahtanya. Manusia banyakyang hancur karena senang dipuji, clan benci dicerca. Bahkan sikap tersebut ditonjolkan lewat pamer dan kemaksiatan.
Terapi penyakit hati tersebut adalah, seseorang harus memikirkan kenikmatan pada sisi pertama di atas. Bahwa pujian karena harta dan tahta, hanyalah kesempurnaan semu. Bahkan menjadi penyebab musnahnya kesempurnaan hakiki, karena la merasa gelisah lantaran kesemuan tersebut, dan sama sekali tiada kegembiraan.

Bila seseorang dipuji karena ilmu clan wara’nya, seyogyanya kebahagiaannya sekadar pada predikat tersebut clan harus bersyukur kepada Allah, bukan kepada si pemuji. Tetapi apabila predikat ilmu dan wara’ itu tidak terdapat dalam dirinya, kebahagiaannya justru merupakan kesombongannya. Seperti kebahagiaan orangyang dipuji dengan kata-kata, “Betapa harum nafasmu!” padahal la tahu nafasnya berbau. Begitu juga dalam pujian dengan predikat berilmu, wara’ dan zuhud, padahal la sendiri tahu, bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki predikat tersebut. Sedangkan terapi terhadap rasa menikmati pujian yang kedua clan ketiga, bisa kita telaah dalam terapi cinta tahta di atas.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/