Adab Berkeluarga

 

Harus dibaca juga..

Syekh Abu Nashr as-Sarraj — rahimahullah — berkata: Dan bukanlah adab mereka yang berkeluarga atau punya anak untuk menyerahkan segala urusan keluarganya kepada Allah dengan tanpa usaha. Namun wajib bagi mereka untuk memenuhi hak-hak mereka kecuali bila mereka berada dalam tingkat kondisi spiritual yang sama. Dan bukanlah adab mereka untuk menikah dengan perempuan-perempuan kaya, sehingga menjadikan mereka berada di bawah belas-kasih istri-istrinya.

Sedangkan di antara adab seorang fakir adalah menikah dengan perempuan-perempuan fakir yang serba kekurangan, sementara ia bisa berbuat adil. Jika ada perempuan kaya ingin menikah dengannya maka sebaiknya tidak menurutinya.

Dikisahkan dari al-Fath al-Maushili — rahimahullah—bahwa satu ketika ia mencium anaknya. Tiba-tiba ada suara yang mengatakan, “Wahai Fath! Tidakkah engkau malu jika engkau mencintai orang lain selain Kami.” Fath berkata: “Setelah peristiwa itu aku tidak lagi mencium anakku.”
Jika ada orang berkata, bahwa Rasulullah saw. memiliki beberapa putra dan beliau juga mencium, memeluk dan menggendong dalam dekapannya.

Sementara al-Aqra’ bin Habis pernah berkata pada Rasulullah, “Wahai Rasululllah, saya punya anak sepuluh namun tak satu pun dari mereka yang pernah aku cium.”
Maka Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidak punya rasa sayang maka ia tidak akan pernah disayang.”
(H.r. Bukhari-Muslim dari Harraz bin Abdullah, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Maka orang yang menggunakan argumentasi tersebut bisa dijawab, “Anda telah terlalu jauh dalam melakukan qias. Sebab Rasulullah saw. adalah Imam semua umat sampai hari Kiamat. Beliau selalu terjaga, memiliki kekuatan kenabian dan cahaya kerasulan dalam segala hal. Dimana segala sesuatu yang ada di luar tidak pernah merampas dan menggeser kondisi batinnya. Sebab semua gerak dan perilakunya adalah sebagai pelajaran bagi umatnya. Sedangkan umatnya tidak memiliki kekuatan dan kekhususan yang dimiliki Rasulullah. Jika beliau memperhatikan mereka dengan penuh perhatian, beliau cemburu dan khawatir untuk membiarkan umatnya memperhatikan kepada selain Allah.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.