Abu Bakr Ra

 

Harus dibaca juga..

UMAR DAN ABU UBAIDAH MELANTIK ABU BAKR

Tetapi Umar tidak akan membiarkan perselisihan itu menjadi perkelahian yang berkepanjangan. Dengan suaranya yang lantang menggelegar Ia berkata: “Abu Bakr, bentangkan tanganmu.”

Abu Bakr membentangkan tangan dan oleh Umar ia diikrarkan seraya katanya:

“Abu Bakr, bukanlah Nabi menyuruhmu memimpin Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya (khalifahnya). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah Saw. di antara kita semua ini.”

Menyusul Abu Ubaidah memberikan ikrar:

“Engkaulah di kalangan Muhajirin yang paling mulia,” katanya, “dan yang kedua dari dua orang dalam gua. menggantikan Rasulullah Saw. dalam salat, sesuatu yang paling mulia dan utama dalam agama kita. Siapa lagi yang lebih pantas dari engkau untuk ditampilkan dari memegang pimpinan ini!”

Seluruh yang  hadir akhirnya bergant ian membaiat Abu Bakr Shiddiq sebagai Khalifah.

Setelah itu beliau berpidato. Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Abu Bakr radiallahi’anhu berkata:

“Kemudian, Saudara-saudara. Saya sudah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya — insya Allah, dan orang yang kuat buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil — insya Allah. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Allah dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan Rasulullah Saw. maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah salat kamu, Allah akan merahmati kamu sekalian.”

 

PERISTIWA ERA ABU BAKR ASH-SHIDDIQ

Maka betapa hebatnya tokoh ini, yang mencatat kegemilangan dalam waktu singkat saat menjadi Khalifah Rasulullah Saw. Sukses-sukses itu antara lain:

Melanjutkan ekspedisi milter Usamah.
Memerangi kaum Murtad.
Memerangi penolak bayar zakat.
Memerangi Musailamah al-Kadzdzab para Nabi Palsu.
Mengumpulkan al-Qur’an.

Banyak prestasi luar biasa dalam bidang politik dan kenegaraan; Abu Bakr ash-Shiddiq berhasil mempresentasikan di hadapan sejarah bahwa konsep Islam tentang Negara dan khilafah sesungguhnya tidak ada, karena itu beliau tetap mengunggulkan konsep demokrasi religius yang berdasar musyawarah demi kesatuan dan keutuhan serta tegaknya agama.

Karena itu tidak ada konsep tegas mengenai sistem kenegaraan dan khilafah dalam Islam, sehingga setiap periode Khulafaur-Rasyidin saja, sistem suksesinya berbeda-beda. Inilah keleluasaan Islam dan universalitasnya, justru memberikan penghargaan pada situasi dan kondisi sosiologis dan historis, dalam rangka menegakkan agama dan kehidupan ummat manusia.

 

NASAB DAN KARAKTER FISIKNYA

Ammar bin Yasir radhiallahu‘anhu mengatakan, “(Di awal Islam) Aku melihat Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam. hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita, dan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu anhum ajmain.” (Riwayat Bukhari).

Sebagaimana telah masyhur, laqob ash-shiddiq disematkan padanya karena ia selalu membenarkan apa yang datang dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana pada pagi hari setelah kejadian Isra’ dan Mi’raj orang-orang kafir berkata kepadanya, “Temanmu (Muhammad Saw) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam”. Abu Bakr menjawab, “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”. 

Ummul Mukminin, Aisyah ra. menuturkan sifat fisik ayahnya, “Ia seorang yang berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya, wajahnya selalu berkeringat, hitam matanya, dahinya lebar, tidak bisa bersaja’, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai atau katam. (Thabaqat Ibnu Sa’ad, 1: 188).

 

KEUTAMAAN ABU BAKR

Pertama, dijamin masuk surga dan memasuki semua pintu yang ada di sana, padahal saat itu beliau masih menjejakkan kaki di muka bumi. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan.” Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, mereka yang berpuasa akan dipanggil dari pintu puasa, yaitu pintu Rayyan. Lantas Abu Bakr bertanya; “Jika seseorang (yang masuk surga) dipanggil dari salah satu pintu, itu adalah sebuah kepastian. Apakah mungkin ada orang akan dipanggil dari semua pintu tersebut wahai Rasulullah Saw?” Rasulullah Saw menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka, wahai Abu Bakr.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Kedua, Abu Bakr adalah laki-laki yang paling dicintai oleh Rasulullah Saw. 

Amr bin Al-Ash ra bertanya kepada Nabi Saw, “Siapa orang yang kau cintai?” Rasulullah Saw. menjawab: “Aisyah.” Aku bertanya lagi: “Kalau laki-laki?” Beliau menjawab:  “Ayahnya Aisyah (yaitu Abu Bakr)” (HR. Muslim).

Ketiga, Allah mempersaksikan bahwa Abu Bakr adalah orang yang ikhlas dalam mengamalkan ajaran Islam. Allah Taala berfirman, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al Lail: 17-21)

Para ulama, di antaranya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata, sebab turun ayat ini adalah berkaitan dengan Abu Bakr ash-Shiddiq (Tafsir as-Sadi, Hal: 886).

Keempat, orang-orang musyrik menyifati Abu Bakr sebagaimana Khadijah menyifati Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakr adalah salah seorang sahabat yang diperintahkan Rasulullah Saw. untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Meskipun Abu Bakr lebih senang berada di sisi Rasulullah Saw. namun Rasulullah Saw. mengkhawatirkan keselematan Abu Bakr karena kabilahnya termasuk kabilah yang lemah, tidak mampu melindunginya dari ancaman orang-orang kafir Quraisy.

Dalam perjalanan menuju Habasyah, saat sampai di suatu wilayah yang bernama Barku al-Ghumad, Abu Bakr berjumpa dengan seseorang yang dikenal dengan Ibnu Dughnah yang kemudian menanyakan perihal tentangnya. Lalu Ibnu Dughnah mengajak Abu Bakr kembali ke Mekah dan ia berkata kepada kafir Quraisy, “Apakah kalian mengusir orang yang suka menghilangkan beban orang-orang miskin, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu, dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (Riwayat Bukhari)

Sifat yang sama seperti sifat yang dikatakan Ummul Mukminin Khadijah tatkala menenangkan Rasulullah Saw. tatkala pertama kali menerima wahyu.

Oleh karena itu, tidak heran sampai-sampai Umar bin al-Khattab menyifati keimanan Abu Bakr dengan permisalan yang sangat luar biasa. Umar mengatakan, “Seandainya ditimbang iman Abu Bakr dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakr.” 

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu’anha, ia menceritakan, setiap harinya Rasulullah Saw. selalu datang ke rumah Abu Bakr di waktu pagi atau di sore hari. Namun pada hari di mana Rasulullah Saw. diizinkan untuk berhijrah, beliau datang tidak pada waktu biasanya. Abu Bakr yang melihat kedatangan Rasulullah Saw. berkata, “Tidaklah Rasulullah Saw. datang di waktu (luar kebiasaan) seperti ini, pasti karena ada urusan yang sangat penting”. Saat tiba di rumah Abu Bakr, Rasulullah Saw. bersabda, “Aku telah diizinkan untuk berhijrah.” Kemudian Abu Bakr menanggapi, “Apakah Anda ingin agar aku menemanimu wahai Rasulullah Saw?” Rasulullah Saw. menjawab, “Iya, temani aku.” Abu Bakr pun menangis.

Kemudian Aisyah mengatakan, “Demi Allah! Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menangis karena berbahagia. Aku melihat Abu Bakr menangis pada hari itu”.

Abu Bakr kemudian berkata, “Wahai Nabi Allah, ini adalah kedua kudaku yang telah aku persiapkan untuk hari ini.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Subhanallah! Abu Bakr menangis bahagia karena bisa hijrah bersama Rasulullah Saw. Padahal hijrah dari Mekah ke Madinah kala itu benar-benar membuat nyawa terancam, meninggalkan harta, meninggalkan keluarga; anak dan istri yang ia cintai, tapi cinta Abu Bakr kepada Rasulullah Saw. membuatnya lebih mengutamakan Rasulullah Saw. daripada harta, anak, istri, bahkan dirinya sendiri.

 

MENANGIS SAAT MEMBACA AL-QURAN

Abu Bakr Ash-Shiddiq ra, adalah seorang laki-laki yang amat lembut hatinya sehingga tatkala membaca Al-quran, matanya senantiasa berurai air mata. Tatkala Rasulullah Saw. sakit menjelang wafatnya, beliau memerintahkan Abu Bakr agar mengimami kaum muslimin. Lalu Aisyah mengomentari hal itu, “Sesungguhnya Abu Bakr adalah seorang yang sangat lembut, apabila ia membaca Al-quran, ia tak mampu menahan tangisnya”. Aisyah khawatir kalau hal itu mengganggu para jamaah. Namun Rasulullah Saw. tetap memerintahkan agar Abu Bakr mengimami kaum muslimin.

Karena bacaan Al-qurannya pula, orang-orang kafir Quraisy mengeluh kepada Ibnu Dhughnah –orang yang menjamin Abu Bakr- agar ia meminta Abu Bakr membaca Al-quran di dalam rumahnya saja, tidak di halaman rumah, apalagi di tempat-tempat umum. Mereka khawatir istri-istri dan anak-anak mereka terpengaruh dengan lantunan ayat suci yang dibaca oleh Abu Bakr.

Dikisahkan pula dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

“Abu Bakr ash-Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakr biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakr makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata, Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?. Abu Bakr bertanya, Dari mana? Ia menjawab, Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Yang Anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakr memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan.” (HR. Bukhari).

 

AWAL KEHIDUPAN

Abu Bakr ash-Shiddiq dilahirkan di kota Mekah dari keturunan Bani Tamim , sub-suku bangsa Quraisy. Beberapa sejarawan Islam mencatat ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar, serta dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi.

Ketika Muhammad Saw. menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, ia pindah dan hidup bersama Abu Bakr. Saat itu Muhammad Saw. menjadi tetangga Abu Bakr. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama, pedagang dan ahli berdagang.

Istrinya Qutaylah binti Abdul Uzza tidak menerima Islam sebagai agama sehingga Abu Bakr menceraikannya. Istrinya yang lain, Ummu Ruman, menjadi Muslimah. Juga semua anaknya kecuali ‘Abd Rahman bin Abu Bakr, sehingga ia dan ‘Abd Rahman berpisah.

 

PENYIKSAAN OLEH QURAISY

Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong Abu Bakr membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan.

Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad Saw. pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakr adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakr juga terikat dengan Nabi Muhammad Saw. secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad Saw. beberapa saat setelah Hijrah.

 

KAROMAH ABU BAKR AS-SIDDIQ 

Fakhrur Razi, tatkala menafsirkan Surat Al-Kahfi banyak menceritakan tentang karomah para sahabat Nabi termasuk di dalamnya karomah Abu Bakr As-Siddiq. Diceritakan bahwa saat mayat Abu Bakr dibawa dan mendekati pintu makam Rasulullah Saw. para pengusung mengucapkan salam, “Assalammu’alaika ya Rasulullah Saw. ini Abu Bakr sedang di luar pintu.” Tanpa diduga pintu makam langsung terbuka dan terdengar suara, “Masuklah orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya.” Menurut Imam Taj Al-Subki, Abu Bakr memiliki 2 macam karamah. Pertama, mengetahui penyakit yang dialaminya membawa kematian dan mengetahui bayi yang ada didalam.

Pada suatu hari, Ali ra. sedang memberikan ceramah, dan dia berkata kepada para hadirin “Siapa orang yang paling kuat?” Orang-orang berkata “Engkau adalah yang paling kuat.” Mereka berpikir begitu karena Ali ra. selalu siap untuk bertarung pada orang yang melawan umat Muslim. Dia-lah pahlawan pada perang Khaybar. Bayangkanlah, Ali pernah menggunakan pintu kastil sebagai tameng pada perang Khaybar! Bayangkan betapa kuatnya dia. Jadi orang-orang mengatakan bahwa Ali ra. adalah orang yang paling kuat.

Ali ra. berkata “Aku siap bertarung dengan orang-orang yang menantangku, Meskipun begitu, Abu Bakar As Saddiq ra. akan melawan siapapun yang menantang Rasulullah Saw. Dia lebih kuat daripada aku.”

Abu Bakar adalah orang yang paling berani dalam umat ini setelah Rasulullah Saw. Seseorang dapat melihat kekuatan hatinya pada perang Badar, Uhud, Parit, Hudaibiyah, dan Hunain. Semua ini cukup untuk membuktikan ketabahan, keteguhannya, dan menguatkan seluruh umat Islam ketika tragedi terbesar menimpa umat Islam, yaitu wafatnya Rasulullah Saw.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.